Kubu Khofifah Serukan “Asal Bukan
Karsa”. Suhu politik di Jawa Timur (Jatim) terus memanas pasca
pencoretan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja dari
daftar calon peserta Pemilihan Gubernur (Pilgub). Merasa dijegal
incumbent, pihak Khofifah melarang pendukungnya, menyumbang suara untuk Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).
“Pilihannya dua, Golput atau Bambang DH.
Kalau untuk masyarakat terserah,” kata tim pemenangan senior pasangan
Khofifah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang,
Salahuddin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah dikutip Rabu (17/7).
Hal tersebut dibenarkan, Ahmad Millah Hasan, anggota tim pemenangan Khofifah.
Iya memang kami mengintruksikan seperti itu.” Tagline yang mereka sebar
adalah ‘ABP’ kepanjangan dari Asal Bukan Pakde–sapaan akrab Soekarwo.
Imbauan itu juga dikuatkan oleh Pengasuh
pondok pesantren Al-Hikam KH Hasyim Muzadi.”Perlawanan lewat jalur
hukum saja tidak cukup, karena penjegalan terhadap Khofifah sangat
kental dengan nuansa politik. Saya menyerukan agar para pendukung
Khofifah, apapun yang terjadi jangan pilih Karwo,” paparnya dalam rilis
yang diterima Surabaya Post pagi tadi.
Menurutnya, Soekarwo tidak sekali
berbuat curang, terutama kepada Khofifah. Pada pilgub 2008 lalu,
Khofifah sebenarnya telah tampil sebagai pemenang. Namun, karena
kecurangan yang terjadi secara massif, Khofifah akhirnya kalah.
“Ini bentuk kejatahatan Politik. Ini
bukan pertama kali, dulu sudah dilakukan pada Pilgub Jatim 2008. Untuk
mengetahuinya, tinggal mengecek saja ke mantan Bupati Bangkalan pak Fuad
Amin, pasti mengetahui cara kecurangannya,” jelas mantan Ketua Umum
PBNU ini.
Sementara, mengenai gugatan-gugatan
hukum yang bakal dilakukan Khofifah-Herman, hingga kini beberapa pihak
mengaku belum menerima pengajuan resminya.
Ketua DKPP Jimly Asshidiqie mengaku
belum menerima laporan dari kubu Khofifah. Ia berharap Khofifah membawa
bukti-bukti ketidaknetralan komisioner KPUD Jawa Timur. “Mereka akan
dipecat secara tidak hormat bila terbukti memihak salah satu calon,”
kata Jimly saat dihubungi. kemarin.
Jimly menyatakan akan menolak laporan
yang sifatnya administratif terkait dengan dukungan ganda Partai
Kedaulatan (PK) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ulama Indonesia (PPNUI).
Persoalan administratif, kata dia, seharusnya kubu Khofifah
melaporkannya kepada Badan Pengawas Pemilu.
Hal asneda diungkapkan Humas Pengadilan
Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya, Indra Permana. “Belum ada kalau soal
gugatan itu (Khofifah,Red),” katanya. Bahkan berembus isu bila gugatan
ke PTUN Surabaya batal dilakukan pasangan calon tersebut.
Terpisah, absennya Khofifah Indar
Parawansa-Herman Sumawiredja dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa
Timur membuat popularitas dan elektabilitas pasangan Bambang DH-Said
Abdullah naik. Terutama di kantong-kantong yang menjadi basis
nahdliyin.”Suara Bambang DH-Said Abdullah pasti naik dengan tidak adanya
Khofifah,” kata peneliti Proximity Whima Edy Nugroho, Rabu (17/7).
Meski begitu, kata Whima, posisi
Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) diyakini masih tetap unggul, terutama
di wilayah Madura, tapal kuda dan Mataraman. Pasalnya, suara nahdliyin
dipastikan akan mengalir ke pasangan incumbent tersebut.”Karsa masih
unggul di semua wilayah baik mataraman, tapal kuda maupun di Madura,”
tandasnya.
Dia menjelaskan, pasangan BDH-Said masih
punya peluang untuk mengimbangi incumbent di wilayah Madura dan
Mataraman. Di Madura, suara pasangan yang diusung kader PDIP itu
dipastikan akan beda tipis dengan incumbent, karena faktor Said
Abdullah. Sedangkan, jika mesin PDIP berjalan optimal, maka BDH-Said
masih bisa mengejar incumbent di wilayah mataraman.”Kalau PDIP bisa
memaksimalkan mesin politiknya di mataraman maka bisa mengancam Karsa,”
tandasnya.
Pasangan Karsa dipastikan akan tetap
unggul di pantai utara dan tapal kuda hingga Banyuwangi. Pasalnya, basis
massa BDH-Said di wilayah itu masih sangat rendah. Disisi lain,
pasangan Eggy-Sihat dipastikan akan sulit memperoleh dukungan. Suara
pasangan tersebut kemungkinan akan berada pada posisi buncit.”Kalau
Eggy-Sihat pasti kalah jauh dari kedua pasangan tersebut. Karsa memang
masih unggul di wilayah tapal kuda,” tandasnya.
Akan tetapi, kata Whima, yang perlu
diwaspadai adalah adanya sentimen anti- Karsa yang mulai berkembang.
Kalau opini tersebut terus menggelinding, maka akan menggerogoti suara
Karsa hampir disemua wilayah.
Pasangan BDH-Said jelas akan diuntungkan dengan kondisi itu.”Ada satu
faktor yang perlu mendapat perhatian, dengan adanya isu penjegalan
Khofifah di Bursa pencalonan gubernur Jatim maka opini yang beredar di
masyarakat yang melakukan pendzoliman adalah Karsa, kalau ini bisa
dimanfaatkan BDH-Said maka suara nahdliyin akan beralih ke BDH-Said
bukan Karsa,” tandasnya.sty,ins (surabayapost)

Posting Komentar